Intensi pada perilaku yang ingin dimunculkan (Ajzen, 2005).

Intensi adalah suatu tekad bulat yang dimiliki seseorang
untuk melakukan atau menghasilkan sesuatu di masa yang akan datang (Bandura, 1986).
Menurut Bandura, intensi adalah bagian vital dari self-regulation individu yang dilatarbelakangi oleh motivasi
seseorang untuk bertindak.

Ajzen (2005) dalam teori planned behavior mengemukakan definisi tentang intensi, yaitu
sebagai daerah dimensi probabilitas seseorang dalam menampilkan suatu tindakan.
Intensi merupakan komponen dalam diri individu yang mengacu pada keinginan
untuk melakukan tingkah laku tertentu, yaitu yang menunjukkan kaitan antara
diri dan perilaku. Intensi dapat menjadi prediktor sukses dari perilaku karena
ia menjembatani sikap dan perilaku. Teori ini berasal dari ranah psikologi
sosial yang berdasar pada premis bahwa kebanyakan perilaku manusia adalah
direncanakan, maka ada intensi yang mendahului manusia agar berperilaku
tertentu (Jorge-Moreno, Castillo & Triguero, 2011). Ajzen (2005: 117) menyatakan
bahwa intensi dan perilaku merupakan suatu fungsi yang terdiri dari tiga
penentu dasar, yakni kepribadian seseorang, bagaimana ia merefleksikan pengaruh
sosial, serta bagaimana ia menghadapi masalah yang berhubungan dengan kontrol.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Faktor pribadi merupakan attitude toward behavior yang dimiliki oleh seseorang, yakni evaluasi
positif atau negatif seseorang tentang melakukan suatu perilaku tertentu yang
menarik baginya (Ajzen, 2005: 118). Faktor penentu intensi yang kedua adalah
persepsi seseorang akan tuntutan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan
perilaku yang dipertimbangkan, faktor ini disebut dengan subjective norm karena berhubungan dengan persepsi normatif yang
diterima seseorang dari lingkungannya. Faktor penentu intensi yang ketiga
adalah rasa mampu atau kemampuan untuk melakukan perilaku yang disebut dengan perceived behavioral control. Sehingga
secara umum, seseorang berminat melakukan sesuatu saat mereka menganggap
perilaku tersebut positif, saat mereka mengalami tekanan sosial untuk
melakukannya, dan saat mereka yakin memiliki niat dan kesempatan untuk
melakukannya (Ajzen, 2005: 118).

Teori ini beranggapan bahwa pentingnya attitude toward behavior (sikap terhadap
perilaku), subjective norm (norma
subjektif), dan perceived behavioral
control (kontol perilaku yang diterima) bergantung pada perilaku yang ingin
dimunculkan (Ajzen, 2005). Bagi sebagian orang, pertimbangan sikap lebih
penting dan menonjol ketimbang perimbangan normatif, namun bagi intensi lain
pertimbangan normatiflah yang mendominasi.

Terdapat dua ciri-ciri utama teori planned behavior. Pertama, teori tersebut beranggapan bahwa perceived behavioral control memiliki
implikasi motivasional terhadap intensi (Ajzen, 2005: 119). Seseorang yang
yakin bahwa mereka tidak memiliki sumber daya maupun kesempatan untuk melakukan
suatu perilaku kemungkinan tidak memiliki intensi yang kuat untuk melakukannya,
meskipun mereka memiliki attitude toward
the behavior dan yakin bahwa orang lain akan setuju bila mereka
melakukannya. Ajzen lantas menyatakan bahwa diharapkan ada hubungan langsung
antara perceived behavioral control dan
intensi, yang tidak dimediasi oleh sikap dan norma subjektif.

Kedua, hubungan langsung antara perceived behavioral control dengan perilaku itu sendiri merupakan
suatu kemungkinan. Perilaku yang muncul tidak hanya bergantung pada motivasi
untuk melakukannya, namun juga pada kontrol yang memadai akan perilaku yang
dimaksud. Sehingga Ajzen (2005) menyatakan bahwa perceived behavioral control dapat memengaruhi perilaku secara
tidak langsung melalui intensi, dan juga dapat digunakan untuk memprediksi
perilaku secara langsung karena dianggap dapat mewakili ukuran kontrol perilaku
tersebut.

1.1.1.     
Pengertian Kewirausahaan

Istilah
entrepreneur berasal dari gabungan dua kata dari bahasa Latin, yakni “entre”
yang berarti menyelami dan “prende” yang berarti menangkap atau
memahami. Ekonom asal Perancis yang bernama Jean-Baptiste Say adalah orang
pertama yang mencetuskan istilah entrepreneur di awal abad ke-19 (The
Etymology of Entrepreneur, 2012). Sehingga entrepreneur atau
wirausaha adalah orang yang punya kemampuan untuk memperoleh dan memanfaatkan
peluang dan berhasil.

Vries
(1977) mengelompokkan wirausaha menjadi empat macam berdasar lingkungan mereka
berasal, yakni:

1.  
Wirausaha craftman, yaitu mereka yang merupakan
pekerja kasar dengan pengalaman serta kemampuan teknologi yang rendah. Mereka
biasanya merupakan mekanik yang hebat dan memiliki reputasi dalam ranah
industri.

2.  
Wirausaha opportunistic, yaitu mereka yang berasal
dari kelas atau golongan menengah hingga Chief Executives.

3.  
Wirausaha dengan memiliki bekal pengetahuan dan
pengalaman teknologi yang didapat dari pendidikan formal.

4.  
Kewirausahaan yang merupakan pergantian besar pada
masyarakat dan perusahaan yang menggunakan istilah wirausaha.

Astuti
dan Martdianty (2012) menyatakan bahwa seorang wirausahawan memiliki beberapa
karakteristik khusus, yaitu:

1.  
Percaya diri dan optimis, baik terhadap diri sendiri
maupun lingkungannya.

2.  
Memiliki jiwa dan berperilaku layaknya pemimpin.

3.  
Punya inisiatif, kreatif, dan inovatif.

4.  
Pekerja keras.

5.  
Berpandangan luas dan memiliki visi.

6.  
Berani mengambil risiko.

7.  
Responsif terhadap saran dan kritik.

Vries
(2005) menyatakan bahwa wirausahawan memiliki keinginan untuk mengontrol
sesuatu (need for control), mereka
yang berwirausaha dihubungkan dengan keinginan untuk memengaruhi, menguasai,
serta menghindari rasa tidak berdaya (helplessness).

Kewirausahaan
atau entrepreneurship sendiri, menurut Daft (2012, dalam Astuti &
Martdianty, 2012), adalah merupakan proses menginisiasi sebuah usaha,
mengorganisasi sumber daya yang diperlukan, serta memerkirakan risiko dan
keuntungan yang berkaitan dengan usaha tersebut.

Menurut
Bygrave, dkk. (2010, dalam Astuti & Martdianty, 2012), proses kewirausahaan
meliputi segala fungsi, aktivitas, dan tindakan yang terkait dengan
memanfaatkan peluang yang ada. Kao (1995, dalam Astuti & Martdianty, 2012)
menyatakan bahwa kewirausahaan merupakan proses melakukan suatu hal baru
(kreatif) dan berbeda (inovatif) demi kesejahteraan individu maupun memberi
nilai tambah untuk masyarakat.

Zimmerer
(1996, dalam Suryana, 2013) menyatakan bahwa kewirausahaan adalah sebuah proses
dinamis untuk menciptakan nilai tambah pada barang dan jasa serta kemakmuran.
Menurut Zimmerer, ada dua hal yang merupakan roh utama pembentuk kewirausahaan,
yaitu kreativitas dan inovasi. Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan
ide serta menemukan cara baru sebagai bagian dalam memecahkan masalah dan
memanfaatkan peluang. Sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk mengaplikasikan
kreativitas yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang serta memecahkan masalah. Zimmerer
(1996, dalam Suryana, 2013) juga mengatakan bahwa mereka yang kreatif cenderung
menghasilkan suatu pemikiran yang baru, berguna, dan dapat dimengerti. Selain
itu, kemampuan berinovasi biasanya ditunjukkan oleh mereka dengan melakukan
penelitian dan mengembangkan hasilnya untuk meningkatkan nilai tambah dan daya
saing produk atau jasa usahanya (Zimmerer, 1996, dalam Suryana, 2013). Wirausahawan
yang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, ketekunan, dan imajinasi
yang, bila digabungkan dengan keinginan untuk mengambil risiko, dapat
membuatnya mengubah ide sederhana dan terkadang remeh menjadi sesuatu yang
konkret (Vries, 2005). Vries (2005) pun menambahkan definisi wirausahawan
sebagai mereka yang memiliki kemampuan untuk menanamkan iklim antusiasme yang
dapat menular.