BAB sebagian bentuk dan ekspresi, yaitu dengan mendengar

BAB
2 KAJIAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian
Puisi

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dunton mengemukakan bahwa sesungguhnya puisi itu
berasal dari pemikiran manusia yang dilihatnya nyata (konkret) dan disusun  secaraartistik misalnya selaras, pemilihan
kata yang tepat dan dalam bahasa yang emosional dengan penuh perasaan serta
berirama seperti pergantian bunyi kata-katanya. (Pradopo, 2010, p. 6)

Puisi memiliki beberapa unsur didalamnya sehingga
menjadi sebuah puisi yang indah dan penuh makna.Salah satu bagian yang paling
berperan dalam puisi adalah pilihan kata.

2.2 Pengertian
Pilihan Kata

Pilihan
kata (Diksi) termasuk kedalam salah satu unsur-unsur puisi. Khususnya pada
bagian unsur fisik. Pertimbangan
dalam kata dalam makna yang terkandung, bunyi yang telah tersusun dari rangkaian
tersebut.(Kosasih, 2012, hal. 97) . Pengertian pilihan kata atau diksi bukan merupakan
bentuk kata-kata yang mengungkapkan suatu ide saja karena dalam diksi terdapat
beberapa unsur sehingga bisa dikatakan sebagai pilihan kata atau diksi anatara
lain susunan dan pengelompokkan kata dan juga bagaimana caranya agar pilihan
kata itu tepat agar bisa diungkapkan serta memiliki gaya bahasa yang tepat agar
sesuai dengan makna yang dimaksud.Pemilihan kata yang tepat sesuai dengan
bagaimana penguasaan bahasa yang dimiliki khususnya pada hal kosa kata.(Keraf,
1991, p. 24)

2.3 Makna kata

Kata
sebagai satuan dari perbendeharaan kata sebuah bahasa mengandung dua aspek,
yaitu aspek bentuk atau ekspresi dan aspek isi makna. Panca indera dapat menyerap sebagian bentuk dan
ekspresi,
yaitu dengan mendengar atau dengan melihat.Reaksi yang akan timbul jika dalam bentuk isi atau
makna. Reaksi
yang timbul itu dapat berwujud “pengertian” atau “tindakan”atau kedua-duanya. Dalam bertutur kata tidak hanya sebuah kata saja yang harus
dikomunikasikan tetapi beberapa kumpulan kata 
dan terdapat unsur mendukung suatu amanat, maka ada
beberapa unsur yang
terkandung dalam ujaran kita yaitu: pengertian, perasaan, nada, dan tujuan. Pengertian adalah hal-hal yang disampaikan berupa
pondasi awal agar timbul reaksi pada yang menerima penyampaian tersebut.
Perasaan adalah berdasar pada perilaku yang ditujukan pada pembicara dengan
memenuhi nilai rasa terhadap apa yang ia bicarakan. Nada adalah bentuk wujud
yang dikeluarkan oleh penulis kepada pendengarnyaSedangkan tujuan
yaitu efek yang ingin dicapai oleh pembicara atau penulis. Memahami semua hal
itu dalam seluruh konteks adalah bagian dari seluruh usaha untuk memahami makna
dalam komunikasi.(Keraf, 1991, hal. 25)

Membatasi makna kata adalah
dengan mengetahui hubungan yang ada ada antara hal atau barang dengan bentuk.
Kata rumah misalnya adalah bentuk atau ekspresi, sedangkan “barang yang
diwakili oleh kata rumah” adalah “sebuah bangunan yang beratap, berpintu,
berjendela, yang menjadi tempat tinggal manusia”. Barang itulah yang disebut
sebagai referen. Menimbulkan
makna jika memiliki hubungan diantara kedua unsur tersebut.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang yang mengetahui sebuah referen
(barangnya) tetapi tidak tahu bagaimana mengacunya, ia tidak tahu katanya. Tetapi kebalikannya juga benar;
kalau ia mengetahui katanya (bentuk),
tetapi tidak tahu referennya berarti ia tidak mengetahui maknanya juga, yaitu
tidak mengetahui hubungan antara bentuk dan referennya. Mengetahui sebuah kata
haruslah mengetahui kedua aspeknya: bentuk (kata) dan referennya. (Keraf,
1991, hal. 26)

Macam-macam makna

Permasalahan dalam bentuk kata sering diabaikan dalam
tatabahasa.Umumnya tidak mengetahui bentuk kata dasar, dan turunannya.Khususnya
pada bagian makna kata. Padahal masalah pemilihan kata yang tepat atau
kesereasian pilihan  kata tergantung
kepada makna yang akan disampaikan walaupun didalamnya terdapat bentuk-bentuk
dalam pendukung sehingg terjadinya pilihan kaya yang
tepat dan makna akan tersampaikan(Keraf, 1991, hal. 27) . Termasuk tentang pengetahuan diksi yaitu mengenai denotasi dan konotasi,
dalam memilih kata yang tepat
dan menimbulkan pemahaman
yang jelas bagi pembaca,
terutama dalam karya sastra penulis harus lebih menguasai mengenai makna kata
denotasi dan konotasi. 

2.4 Makna Denotatif

Denotasi
sebuah kata adalah definisi kamusnya, yaitu pengertian yang menunjuk benda atau
hal yang diberi nama dengan kata itu, disebutkan, atau diceritakan. Bahasa denotatif adalah bahasa yang memiliki tujuan hanya
pada satu arah saja dan tidak memiliki makna selain yang sebenarnya.
Jadi, satu kata itu menunjuk satu hal saja, yang seperti ini ialah ideal bahasa
ilmiah dalam membaca sajak orang harus mengerti arti kamusnya, arti denotatif,
orang harus mengerti apa yang ditunjuk oleh tiap-tiap kata yang dipergunakan.
Namun dalam puisi (karya sastra pada umumnya), sebuah kata tidak hanya
mengandung aspek denotasinya saja. Bukan hanya berisi arti yang ditunjuk saja, masih ada arti
tambahannya, yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi yang keluar dari
denotasinya. (Pradopo, 2010, hal. 58 – 59)

Makna
denotatif disebut juga dengan beberapa istilah lain seperti makna denotasional,
makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna referensial atau
makna proposisional,
dikarenakan menunjuk kepada suatu referen maka disebut dengan makna seperti itu,
konsep atau ide tertentu dari suatu referen. Disebut makna kognitif karena
makna itu bertalian dengan kesadaran atau pengetahuan; stimulus dari pihak
pembicara dan respons (dari pihak
pendengar) meyangkut hal-hal yang dapat dicerap pancaindera (kesadaran) dan
rasio manusia. Makna ini disebut juga makna proposisional karena ia bertalian
dengan informasi-informasi atau pernyataan-pernyataan yang bersifat aktual.
Makna ini, yang diacu dengan bermacam-macam nama, adalah makna yang paling
dasar pada suatu kata.(Keraf, 1991, hal. 28)

Makna
denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini
adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian
yang dikandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut
makna konseptual. Kata makan, misalnya bermakna memasukkan sesuatu ke dalam
mulut, dikunyah, dan ditelan. Makna kata makan seperti ini adalah makna
denotatif. (Arifin, 2006, hal. 30)dalam bentuk yang
murni , makna denotatif dihubungkan dengan bahasa ilmiah.

Pengarahan
yang jelas terhadap fakta yang khusus adalah tujuan utamanya; ia tidak
menginginkan interpretasi tambahan dari tiap pembaca, dan tidak akan membiarkan
interpretasi itu dengan
memilih kata-kata yang konotatif. Sebab itu untuk menghindari interpretasi yang
mungkin timbul, penulis akan berusaha memilih kata dan konteks yang relatif
bebas interpretasi. Makna denotatif dapat dibedakan atas dua macam relasi,
yaitu pertama, relasi antara sebuah kata dengan barang individual yang
diwakilinya, dan kedua relasi antara sebuah kata dan ciri-ciri atau perwatakan
tertentu dari barang yang diwakilinya. (Keraf, 1991, hal. 29)

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
3 PEMBAHASAN

 

3.1 Denotatif pada puisi “Risalah Hujan”

 

RISALAH
HUJAN

/1/

Besok huhan akan
menemuimu

Dengan rinai menetes
satu – satu:

Kesejukan kautsar

 

Besok hujan akan
menemui

Dengan angin menerpa
sepoi – sepoi:

Ketenangan kama

 

Aku akan menemuimu
bersama:

Hujan yang rindukan

Awan

 

/2/

Aku tahu engkau
mengerti gelisahku

Kegelisan purbawi: Adam
dan Hawa

Pencariannya tanpa
muara. Hampa

 

Aku tau engkau memahami
rinduku

Kerinduan surgawi: Aku
dan Engkau

Pemaknaannya tak
bertepi . Sepi

 

/3/

Aku bersama hujan sore
ini: Tergemgam

Hujan bulan Juni yang lelah

Kau masih sendiri ?

Bangku panjang di
lorong kelas masih tabah

Menunggumu

Hujannya begitu bijak

Menyimpan rahasia
langit

 

/4/

Apa yang kau pikirkan
tentang hujan

Yang rintikannya
membasahi bayangan

Kau membawa desau angin
ke dalam sukma

Ah , kau suka bergurau
!

 

Hujan bukanlah
rintiknya yang basah

Daru angin yang parau

Petir yang menyala di
langit

Hujan adalah kau (Isnaini, 2017, hal. 66 – 67)

Makna
yang mengandung  denotatif pada puisi
“Risalah Hujan”

/1/

Dalam
ungkapan denotatif pada baris
pertama
puisi risalah hujan “besok hujan akan menemuimu” mengekspresikan tentang “hari
esok akan datangnya rintikan air yang berjatuhan di udara” .

Dalam
ungkapan baris
kedua pada puisi pertema tentang risalah hujan ” dengan rinai mentes satu –
satu;” mengartikan tentang ” air yang berjatuhan dari udara perlahan turun” .

Untuk
baris
puisi ke tiga pada puisi rinai hujan “kesejukan kautsar” menjelaskan tentang “kesejukan
yang diciptakan oleh Tuhan”

Untuk
baris
kelima pada puisi risalah hujan “dengan angin menerpa sepoi – sepoi:” mengartikan bahwa “hembusan
udara yang dirasakan dengan perlahan”
.

Kalimat
pada puisi risalah hujan tentang baris keenam mengatakan “ketenangan kama” menjelaskan
bahwa “keadaan yang tenang akan cinta” .

Bagian pertama pada baris terakhir mengatakan bahwa “hujan
yang rindukan awan” mengartikan bahwa ” rintikan air yang ditunggu”

/2/

Dalam
ungkapan denotatif pada puisi bagian dua tentang risalah hujan “aku tau engkau
mengerti gelisahku” mengekspresikan tentang “paham akan maksud yang tidak tentram” .

Pada
baris
kedua puisi risalah hujan dikatakan
bahwa “Kegelisahan purbawi” yang diartikan sebagai “perasaan tidak tentram
sejak lama” .

Bagian
puisi pada baris
ketiga tentang risalah hujan mengatakan bahwa “Adam dan Hawa pencariannya tanpa
muara. Hampa” yang diartikan sebagai ” pencarian awal seorang makhluk di muka
bumi hingga ujung sungai yang tidak berisi”

Untuk
baris
keempat pada puisi risalah tentang “aku tahu engkau mamahami rinduku”
menjelaskan tentang “ekspresi seseorang yang mengartikan bahwa perasaan yang
ingin bertemu” .

Pada
bagian puisi risalah hujan tentang baris kelima menjelaskan bahwa “kerinduan surgawi”
mengartikan tentang “menginginkan
sesuatu di tempat yang kekal ” .

Bagian kedua baris terakhir
mengatakan bahwa “Aku dan
Engkau pemaknaannya
tak bertepi. Sepi” yang artikan dengan “sama – sama memahami maksud dari
perbedaan. Sunyi”
.

/3/

Pada
bagian puisi ketiga tentang risalah hujan dibaris pertama mengatakan “aku bersama
hujan sore ini: tergenggam” yang menjelaskan tentang “telah dibasahi rintikan
air yang berjatuhan pada petang ini”.

Dalam
ungkapan baris
kedua pada puisi ketiga risalah hujan yang mengatakan bahwa “hujan bulan Juni yang lelah” yang diartikan
denotatif yaitu “sering terjadinya rintikan air yang berjatuhan di bulan Juni” .

Untuk
baris
ketiga pada puisi risalah hujan mengatakan bahwa “kau masih sendiri ?” kalimat
tersebut yang mengandung kalimat denotatif 
diartikan bahwa “bertanya akan kesendirian seseorang” .

Untuk
baris
keempat pada puisi risalah hujan yang mengatakan bahwa “bangku panjang dilorong
kelas masih tabah” yang diartikan sebagai”kursi yang berada di persimpangan
jalan kecil dekat kelas masih terlihat kosong”.

Untuk
baris
kelima pada puisi risalah hujan yang mengatakan bahwa “menunggumu” kata
tersebut yang termaksud kata denotatif yang diartikan dengan “tinggal beberapa saat” .

Untuk
baris
keenam
pada puisi risalah hujan yang mengatakan bahwa “ini Desember , ujarmu” yang
diartikan sebagai “petunjuk bahwa hari ini adalah bulan Desember”

Bagian
puisi risalah pada baris
ketujuh mengatakan
bahwa “hujannya begitu
bijak” yang menunjukan bahwa “rintikan air yang berjatuhan dari udara datang
disaat yang tepat”.

Untuk
baris
terakhir pada puisi bagian ketiga
tentang risalah hujan mengatakan bahwa “menyimpan rahasia langit” yang
diartikan sebagai menyimpan sesuatu terlalu dalam”.

/4/

Pada
puisi keempat terakhir tentang risalah hujan dibagian baris pertama mengatakan bahwa “apa yang
kau pikirkan tentang hujan” yang diartikan sebagai “bentuk pertanyaan mengenai rintikan
air yang turun dari udara”.

Bagian
baris
kedua puisi risalah hujan mengatakan bahwa “yang rintiknya membasahi bayangan”
yang diartikan sebagai “terguyurnya oleh rintikan air yang turun dari udara”.

Untuk
baris ketiga
pada puisi risalah hujan mengataka bahwa “kau membawa desau angin kedalam sukma” yang diartikan sebagai “semburan
udara yang menusuk dalam jiwa”.

Untuk
baris
keempat pada puisi risalah hujan mengatakan bahwa “ah , kau selalu bergurau!”
yang diartikan sebagai “sesuatu candaan”.

Untuk
baris puisi
kelima pada puisi risalah hujan mengatak bahwa “hujan bukalah rintikan yang
basah” yang diartikan sebagai “perbandingan antara gerimis dengan hujan lebat”.

Untuk
baris
keenam pada puisi risalah hujan yang mengatakan bahwa “deru angin yang parau” yang diartikan sebagai “bunyi
anginyang sedikit
keras”

Untuk
baris
ketujuh pada puisi risalah yang mengatakan bahwa “petir yang menyala dilangit”
yang diartikan sebagai “cahaya yang menyambar”.

Dan
baris
puisi yang terakhir pada puisi risalah tentang hujan mengatakan bahwa “hujan
adalah kau” yang diartikan sebagai “petunjuk bahwa dirinya rintikan air yang
turun dari udara”.

3.2 Denotatif pada puisi “Aku dan Mu”

AKU DAN MU

Aku
belum mengenalmu:

Fajar
sudah berlalu

Matahari
terjaga di ufuk timur

Berjalan
di atas ubun ubun

Terbakar
cahaya kemerahan

Tenggelam
pada kegelapan

 

Aku
lupa padamu:

Terpana
oleh ciptaanmu

Bergurau
dengan isi

Terlena
oleh bungkus

Menelusup
tiap pori

 

Aku
ingin mengenalmu

lagi!
(Isnaini, 2017, hal. 84)

Makna yang mengandung denotatif
pada puisi “Aku dan Mu”

Pada
bagian baris
pertama puisi tentang Aku dan Mu mengatakan bahwa “aku belum mengenalmu” yang
mngartikan bahwa “sesuatu yang belum diketahuinya”.

Maksud
dalam bagian baris
kedua puisi Aku dan Mu mengatakan bahwa “fajar sudah berlalu” yang menjelaskan
sebagai “sebuah pertanda telah bergantinya waktu”.

Untuk
baris
ketiga pada puisi Aku dan Mu mengatakan bahwa “matahari terjaga di ufuk timur”
yang mejelaskan bahwa “sinar
matahari
telah berada di ujung bagian timur”.

Untuk
baris keempat
pada puisi Aku dan Mu mengatakan bahwa “berjalan di atas ubun ubun” yang
mengartikan bahwa “melewati
pada bagian atas kepala”.

Untuk
bagian kelima pada puisi Aku dan Mu mengatakan bahwa “terbakar cahaya
kemerahan” yang diartikan sebagai “pertanda langit memberikan warna yang
terang”. Merupakan
sambungan dari makna baris yang sebelumnya jika makna yang sebenarnya adalah ”
sudah terbakar oleh api yang berwarna merah”

Untuk
bagian baris keenam
pada puisi Aku dan Mu mengatakan
bahwa “tenggelam pada kegelapan” yang menjelaskan tentang “waktu yang
menunjukan datangnya malam”.

Baris ketujuh menjelaskan bahwa “aku
lupa padamu” diartikan sebagai “tidak mengenalnya”.

Dalam
ungkapan baris
kedelapan pada puisi Aku dan Mu mengatakan 
bahwa “terpana oleh ciptaanmu” yang diartikan sebagai “merasakan
kekaguman”.

Bagian
baris
kesembilan mengatakan bahwa “bergurau dengan isi hati” yang dijelaskan bahwa
“bermain – main dengan sesuatu yang ada”.

Untuk
bait kesepuluh tentang puisi Aku dan Mu mengtakan bahwa “terlena dengan
bungkus” yang mengartikan bahwa “terbuai
dengan apa yang membalutnya”.

Pada
bagian baris
kesebelas mengatakan bahwa “menelusup tiap pori” menjelaskan tentang “sesuatu
yang masuk kebagian paling dalam”.

Dan
baris terakhir
pada bagian puisi Aku dan Mu mengatakan bahwa “aku ingin mengenalmu lagi!” yang
diartikan sebagai “mencoba mengetahui kembali”.

3.3 Denotatif Pada
Puisi “Pada suatu
Senja”

Pada Suatu Senja

Pada
suatu senja datuk kaku sepanjang kuku zaman

Aku
melihatmu menjadi seseorang

Entah
siapa. Mungkin itulah hati

Katamu
pada senja ketika gerimis

 

Suara
terdengra samar menusuk

Ada
kesedihan terpancar

Dengan
mengetuki jendela

Dua
kali dua hitunganku: ketukan berulang

 

Pada
suatu senja datuk duduk disebaris nasib

Kau
kini melihatku menjadi seseorang

Bayangan
buram di dalam cerimin

 

Suara
itu kini tak terdengar

Ibarat
senyum yang tersembunyi

Di
balik rumpun bambu (Isnaini, 2017, hal. 95)

 

 

Makna yang mengandung denotatif
pada puisi “Pada Suatu Senja”

Pada
bagian baris
pertama puisi Pada Suatu Senja mengatakan bahwa “pada suatu senja datuk kaku
sepanjang kuku zaman” yang mengartikan bahwa “di sore hari orang yang tertua
itu hingga saat ini tidak bergerak”.

Potongan
kalimat puisi baris kedua
Pada Suatu Senja mengatakan bahwa “aku melihatmu menjadi seseorang entah siapa
” yang mengartikan bahwa “memandang seseoarang yang menjadi sosok lain “.

Potongan
kalimat puisi Pada Suatu Senja mengatakan bahwa “Mungkin itulah hati katamu
pada senja ketika gerimis ” yang menjelaskan bahwa “seperti batin yang
berbicara
dikala sore pada saat rintikan air turun dari udara”.

Dalam
paragraf
puisi kedua baris
pertama Pada Suatu Senja mengatakan
bahwa “suara terdengar samar menusuk” mengartikan bahwa “suara yang keluar itu
tidak terdengar jelas”.

Baris kedua puisi Pada Suatu Senja
mengatakan bahwa “ada kesedihan terpancar” yang menjelaskan bahwa “terlihat sedih”.

Potongan
kalimat puisi Pada Suatu Senja mengatakan bahwa “dengan mengetuk jendela dua
kali dua hitungaku: ketuk berulang” yang menjelaskan bahwa “memukul sesuatu
menggunakan jari secara lebih dari satu kali”.

Bagian paragraf tiga baris pertama mengatakan bahwa “pada
suatu senja datuk duduk di sebaris nasib” menjelaskan bahwa “di sore hari orang yang tertua sedang meletakkan tubuh
pada keadaan seperti ini”

Baris kedua puisi Pada Suatu Senja
mengatakan bahwa “kau kini melihatku menjadi seseorang” yang menjelaskan
tentang “memandang telah menjadi sosok yang lain”.

Baris ketika puisi Pada Suatu Senja
mengatakan bahwa “bayangan buram di dalam cermin” menjelaskan bahwa “pantulan bayangan yang tidak dapat
tampak jelas”.

Bagian
paragraf
keempat baris
pertama mengatakan bahwa “suara itu tak terdengar” menjelaskan akan “bunyi yang
di keluarkan tidak dapat terdengar”.

Baris kedua Pada Suatu Senja mengatakan
bahwa “ibarat senyuman yang tersembunyi” mengartikan tentang “bagaikan tarikan
wajah berseri yang tidak terlihat”

Baris terakhir puisi Pada Suatu Senja mengatakan bahwa
“di balik rumpun bambu” yang mejelaskan bahwa “dibelakang tumbuh berongga”.

 

 

 

BAB 4 PENUTUP

4.1 Simpulan

Denotatif
merupakan jenis dari makna kata.Puisi termasuk yang memiliki banyak makna kata
pada isinya. Contohnya pada puisi “Risalah Hujan”, “Aku dan Mu”, “Pada Suatu
Senja” dari ketiga puisi tersebut setiap barisnya memiliki makna denotasi atau
makna yang sebenarnya. Mengartikan puisi tiap baris pada makna yang sebenarnya
adalah dengan fokus kepada satu hal dan memang merujuk kepada pengertian yang
diberi oleh nama itu.

Dalam
puisi “Risalah Hujan” misalnya
bagian “aku
tau engkau mengerti gelisahku” artinya
adalah
“paham akan
maksud yang tidak tentram” .Dalam
puisi “Aku dan Mu” bagian “aku
belum mengenalmu” yang mengartikan
bahwa “sesuatu yang belum diketahuinya”. Dalam Puisi “Pada
Suatu Senja” bagian “suara itu tak terdengar” menjelaskan
akan “bunyi yang di keluarkan tidak dapat terdengar”.Dari ketiga puisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
memberikan arti denotasi adalah paham akan maksud yang dieskpresikan dalam tiap
baris puisi tersebut sehingga tercipta makna kata yang sebenarnya.

4.2 Saran

Mengingat kajian tentang penggunaan makna
konotasi dalam puisi tersebut
belum dibahas dalam makalah ini, oleh karena itu penulis menyarankan untuk
melakukan kajian berikutnya. Mengingat pentingnya bahasan tentang penggunaan makna
konotasi dalam puisi tersebut
menarik untuk dibahas lebih lanjut.